Senin, 30 Maret 2015

Banjir Besar di Mesopotamia Kuno





Di Mesopotamia Kuno lingkungannya sangan keras dengan musim panas yang sangat panas dan curah hujan yang kecil. Itulah sebabnya pertanian Negara ini bergantung pada banjir tahunan. Sekitar tahun 3100 SM, Sungai Eufrat melimpahkan air lebih besar dari biasanya sehingga membanjiri Kota Shuruppak, kota besar saat itu, dan wilayah sekitarnya. Orang-orang menganggap ini sebagai hukuman para Dewa.

Meskipun peristiwa ini hanya bencana lokal, tapi dampaknya mendunia. Banjir besar ini berdampak mendalam pada orang Sumeria secara keseluruhan, kemudian didramatisasi dalam kisah epik kepahlawanan Gilgamesh yang memiliki kemiripan dengan kisah Nabi Nuh.

Awal Mula Terbentuknya Danau Toba






Danau Toba adalah sebuah danau vulkanik yang terletak di Sumatra Utara, Indonesia. Danau ini merupakan yang terbesar di Asia Tenggara. Di tengah danau ini terdapat sebuah pulau vulkanik bernama Pulau Samosir

Danau Toba sesungguhnya berasal dari sebuah letusan gunung berapi super (supervolcano) yang terjadi sekitar 73.000 – 75.000 tahun yang lalu. Letusan Toba yang menciptakan Danau Toba sekarang diperkirakan memiliki skala 8 VEI. Skala 8 berarti letusan terbesar. Saking besarnya letusan hingga membentuk kawah berukuran 3.000 km2  yang kemudian terisi oleh air dan menjadi Danau Toba. Tekanan ke atas oleh magma yang belum keluar menyebabkan munculnya Pulau Samosir.

Kejadian ini menyebabkan kematian missal dan kepunahan beberapa spesies. Letusan ini juga menyusutkan jumlah manusia sampai sekitar 60% dari jumlah populasi manusia di Bumi saat itu. Letusan itu juga ikut menyebabkan terjadinya zaman es, walaupun para ahli masih memperdebatkannya

Louis Slotin






Louis Slotin adalah seorang fisikawan dan ahli kimia dari Kanada yang bergabung dalam Proyek Manhattan untuk menciptakan bom atom pertama. Dia berpatisipasi dalam pengujian kekritisan inti plutonium.


Pada 21 Mei 1946, Slotin dan tujuh rekannya melakukan sebuah percobaan untuk menciptakan salah satu langkah pertama dari reaksi fisi dengan menempatkan dua setengah-bola berillium di sekitar inti plutonium. Slotin mencoba menstabilkan bola berilllium bagian atas dengan tangan kiri menggunakan pisau dan obeng. Obeng itu kemudian tergelincir menyebabkan bola berillium jatuh dan menciptakan ledakan radiasi. Para ilmuwan di dalam ruangan mengamati cahaya biru di sekitar mereka dan merasakan gelombang panas.
 



Slotin segera menyentakan tangan kirinya ke atas, mengangkat belahan berillium, dan menjatuhkannya ke lantai untuk mengakhiri reaksi. Namun, Slotin sudah terkena dosis mematikan yang setara dengan jumlah radiasi yang ia terima pada jarak 1.500 meter dari sumber ledakan bom atom. Dia segera dilarikan ke rumah sakit, tapi ia pun meninggal Sembilan hari kemudian.

Chernobyl





Pada 26 April 1986 terjadi kecelekaan nuklir di reaktor nomor 4 di Pembangkit Listrik  Tenaga Nuklir Chernobyl, Ukraina. Pekerja di pabrik berencana untuk menentukan  berapa lama turbin akan berputar dan berapa banyak pasokan listrik ke pompa sirkulasi utama. Saat itu, para pekerjanya belum terlatih untuk melakukan prosedur pengujian.





Kecacatan pada reaktor menyebabkan lonjakan kekuatan besar dan memanasnya inti nuklir. Reaktor tersebut meledak dan menghasilkan uap radioaktif yang mencemari udara di sekitarnya. Lebih dari 200.000 orang mesti diungsikan dan dipindahkan. Korban tewas akibat bencana Chernobyl, termasuk yang meninggal akibat kanker bertahun-tahun sesudah bencana, berjumlah sekitar 125.000 orang. Kerugian total yang diderita, termasuk pembersihan, transmigrasi, dan kompesasi kepada korban, ditaksir sekitar $200.000.000.000
 







Jumlah korban tewas akibat bencana Chernobyl bervariasi. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sedikitnya 9.000 orang akan atau telah meninggal dunia akibat terkena radiasi. Sedangkan kelompok Greenpeace memperkirakan jumlah korban tewas yang sebenarnya mencapai 93.000 orang.